Dari Banda Naira sampai Moskow, Rute Ngetrip Para Pahlawan Indonesia

Oleh: TelusuRI

Ternyata bukan cuma kita aja loh yang suka ngetrip, para pahlawan dan bapak pendiri bangsa juga suka banget melakukan perjalanan. Eitss, tapi perjalanannya berbeda dengan kita. Alasan mereka melakukan perjalanan beragam, ada yang untuk mencari ilmu, untuk perjalanan diplomasi, atau bahkan melarikan diri dari kejaran musuh. Berikut kisahnya.

1. Raden Mas Panji Sosro Kartono (1877-1952)

Raden Mas Panji Sosro Kartono

Raden Mas Panji Sosro Kartono via historia.id.

Kakak dari RA Kartini ini pada mulanya merantau ke Belanda untuk meneruskan pendidikan di Sekolah Teknik Tinggi Leiden, Belanda, setelah lulus dari HBS Semarang. Namun di pertengahan jalan, ia menyadari bahwa jurusan teknik bukanlah panggilan hidup karena sastra lebih menarik hatinya. Ia kemudian berpindah haluan dan memilih kuliah di jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur.

Kepandaian dan kerja kerasnya berbuah manis. Ia berhasil menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah Nusantara. Pencapaian ini membuat Raden Mas Panji Sosro Kartono dikenal sebagai poliglot, yakni orang yang menguasai banyak bahasa.

Setelah lulus, ia berkarier sebagai wartawan perang di The New York Herald Tribune. Pekerjaannya sebagai koresponden Eropa di surat kabar tersebut mengharuskan ia meliput Perang Dunia I yang kala itu tengah meletus. Berbagai sumber mencatat, Sosro Kartono pernah berkeliaran di Austria, Spanyol, Prancis, dan Belanda selama bertugas sebagai wartawan.

2. Haji Agus Salim (1884-1954) 

Haji Agus Salim

Haji Agus Salim via Wikimedia.org

Kali ini cerita Haji Agus Salim. Keputusan pemerintah kolonial Belanda yang tidak mengabulkan permintaan beasiswa kedokteran untuk Agus Salim memberi andil besar untuk sejarah Indonesia. Dari sinilah Agus Salim mulain merantau ke Jeddah dan bekerja di Konsulat Belanda kota tersebut, yakni mengurus jemaah haji Hindia-Belanda. Seiring waktu, Agus Salim mendapatkan banyak pengalaman. Ia menjadi seorang diplomat ulung. Perjalanan-perjalanan diplomatik membawanya ke berbagai negara. Diantaranya India, Amerika Serikat, Mesir, dan Inggris.

Jika kamu melihat potret-potret lawas Agus Salim, mungkin kamu akan dibuat terkejut. Salah satu foto lawas Agus Salim yang paling fenomenal adalah potretnya yang sedang merokok kretek di Buckingham Palace pada saat penobatan Ratu Elizabeth II.

Buckingham Palace, London

Buckingham Palace, London. Editorial Credit: HVRIS / Shutterstock.com

3. Tan Malaka (1897-1949) 

Tan Malaka

Tan Malaka via tirto.id

Siapa yang tak kenal Tan?. Dibandingkan pahlawan lain, perjalanan Tan Malaka termasuk yang paling jauh dan lama. Kalau dulu sudah ada Instagram, mungkin ia sudah menjadi selebgram.

Petualangan pertama dilakukan saat usianya menginjak 16 tahun. Mula-mula menuju Haarlem, Belanda, untuk belajar di sekolah khusus pencetak guru. Setelah lulus, Tan kembali ke tanah air dan mengajar di perkebunan teh di Deli, Sumatera Utara, sebelum akhirnya pergi ke tanah Jawa.

Rumah kelahiran Tan Malaka di Pandam Gadang, Sumatera Barat

Rumah kelahiran Tan Malaka di Pandam Gadang, Sumatera Barat. Editorial credit: taufik imran / Shutterstock.com

Karena keterlibatannya dalam gerakan buruh yang menentang pemerintah kolonial, Tan Malaka ditangkap pada tahun 1922. Awalnya, ia akan diasingkan ke Kupang, tapi keputusan berubah dan ia harus keluar dari Hindia Belanda. Sejak itu, ia mengembara dengan beragam nama alias dari satu negara ke negara lain. Negara-negara yang pernah Tan singgahi selama pengasingan antara lain Jerman, Thailand, Tiongkok, Uni Soviet, Filipina, Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Burma.

4. Iwa Koesoemasoemantri (1899-1971) 

Iwa Koesoemasoemantri

Iwa Koesoemasoemantri via wikipedia.org

Nama Iwa Koesoemasoemantri pasti sangat terkenal di kalangan anak Unpad, kampus Dipatiukur. Awalnya Iwa merupakan salah satu mahasiswa di sekolah calon amtenar yang sangat terkenal yakni OSVIA Bandung. Namun, ia tidak mau tunduk pada budaya barat sehingga ia pindah ke Jakarta dan belajar ilmu hukum. Iwa lalu melanjutkan studinya ke Belanda, tepatnya di Universitas Leiden pada tahun 1921. Ia juga sempat berkuliah di Moskow, Uni Soviet selama satu setengah tahun.

Moscow Kremlin

Lanskap Moskow, kota di mana Iwa Koesoemasoemantri pernah berkuliah.

Perjalanannya tak berhenti sampai di situ. Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1927, ia terjun dan aktif dalam gerakan pro-kemerdekaan. Perjalanannya berakhir ketika ia dibuang oleh Belanda ke Banda Naira dan menghabiskan 10 tahun di sana.

5. Ki Hajar Dewantara (1889-1959) 

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara via tokoh.id

Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Bangka oleh pemerintah kolonial Belanda karena ia mendirikan Indische Partij bersama dua orang rekannya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Seolah belum cukup jauh dari pusat pemerintahan, Ki Hajar Dewantara lalu diasingkan ke Belanda. Pengasingan Ki Hajar Dewantara ke Belanda memiliki porsi tersendiri bagi sejarah bangsa Indonesia, karena di pengasingan ini sang alumni STOVIA belajar ilmu pendidikan dan mendapatkan ijazah Europeesche Akte. Berkat pendidikan tersebut, kita jadi bisa mengenal semboyan “Tut Wuri Handayani”.

6. Sam Ratulangi (1890-1949) 

Sam Ratulangi

Sam Ratulangi via wikipedia.org

Perjalanan Sam Ratulangi juga tak kalah jauhnya dengan pahlawan lain; dimulai dari Batavia, lalu melanjutkan pendidikannya di Universitas of Amsterdam, Belanda, hingga meraih gelar master. Jenjang gelar Ph.D juga ia dapatkan dari Universitas Zurich di Swiss.

Kariernya terus berlanjut dengan cemerlang setelah kembali ke Indonesia. Ia sempat menjadi guru sains di sekolah menengah dan juga sempat tinggal di Bandung untuk mendirikan perusahaan asuransi. Namun, setelah menjadi Gubernur Sulawesi, ia dibuang oleh pemerintah kolonial  Belanda pada tahun 1946 ke Serui, Pulau Yapen, Papua. Sebagai penghormatan, namanya kerap kali dijadikan identitas dari sebuah nama jalan, bandara, dan universitas. Bahkan, potretnya juga dilukis di mata uang pecahan Rp20.000 yang terbaru.

7. Mohammad Hatta (1902-1980) 

Mohammad Hatta

Mohammad Hatta via jurnal.id

Moh. Hatta memulai perjalanannya dari Bukittinggi (Fort de Kock) ke Jakarta untuk bersekolah di HBS. Kemudian berlayar ke Rotterdam dan kuliah di Nederlandsche Handels-Hogeschool yang sekarang dikenal dengan nama Erasmus University Rotterdam.

Selain dikenal karena kegigihannya dalam menuntut ilmu, Hatta juga dikenal sebagai seseorang yang aktif dalam berorganisasi. Selama di Belanda, ia aktif di Perhimpoenan Indonesia. Ia juga pernah berkunjung ke Brussels, Belgia, untuk mengikuti pertemuan Liga Anti Imperialisme dan sempat bertemu dengan Pandit Jawaharlal Nehru.

Rumah pengasingan Bung Hatta di Banda Naira.

Rumah pengasingan Bung Hatta di Banda Naira. Editorial credit: Marchel Demosky / Shutterstock.com

Tak hanya itu, Bung Hatta juga pernah ke Swiss menghadiri pertemuan Liga Perempuan Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan. Di Indonesia sendiri, ia sangat aktif dalam gerakan pemuda. Sepak terjang Bung Hatta kemudian diketahui pemerintah Belanda dan berujung pada pengasingan ke berbagai pelosok, seperti Boven Digoel di Papua dan Banda Naira di Maluku.

8. Djamaluddin Adinegoro (1904-1967) 

Djamaluddin Adinegoro

Djamaluddin Adinegoro via validnews.id

Djamaluddin Adinegoro, adik Muhammad Yamin yang juga merupakan alumni STOVIA ini pernah melakukan perjalanan yang tak kalah bersejarah. Setelah lulus, ia pergi ke Berlin, Jerman untuk belajar banyak bidang, seperti jurnalistik, kartografi, geografi, dan geopolitik. Ia kemudian menetap di Eropa selama 5 tahun.

Sebelum pulang ke Indonesia, ia menyempatkan mampir di beberapa negara seperti Italia, Abyssinia (Ethiopia), India, Eritrea, dan Sri Lanka. Sebagai tokoh pers, ia menuangkan cerita perjalanannya ke dalam sebuah buku yang berjudul “Kembali dari Perlawatan ke Europa”.

Source: Dari Banda Naira sampai Moskow, Ini Dia Rute Ngetrip Para Pahlawan Indonesia


Artikel ini adalah konten kurasi PressForward dari RSS feed Wego. Karena itu baca juga cerita menarik lainnya di situs Wego Indonesia Travel Blog.

Kalau punya cerita menarik tentang tempat wisata atau ingin berbagi tips seputar liburan dan jalan-jalan, kirim ke editorial@whereis.id supaya bisa dibaca oleh para traveller!

Whereis.id sendiri adalah situs pembanding harga tiket pesawat serta hotel. Kami menyajikan informasi harga dari ratusan situs agen wisata, maskapai, dan jaringan hotel dunia, dalam satu tampilan sederhana. Dengan menggunakan Whereis.id mencari tiket pesawat dan hotel sesuai preferensi akan lebih cepat dan mudah!